Halaman

Rabu, 04 Januari 2012

Pengertian dan Perbedaan Strategi, Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran



Apa Pengertian dan Perbedaan Strategi, Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran?

Sukarman (1997:153) mengemukakan bahwa ada guru memulai pembelajaran dengan memberikan penjelasan tentang materi yang akan diuraikan, ada yang memulai dengan mengulangi penjelasan tentang materi yang lalu, atau ada yang secara aktif memulai dengan mengajukan pertanyaan pada siswa. Kegiatan selanjutnya, guru akan melanjutkan dengan menguraikan materi yang diajarkan, atau membentuk kelompok-kelompok diskusi, atau membagikan lembar kerja, atau dengan demonstrasi dan peragaan. Akhirnya kegiatan pembelajaran ditutup dengan rangkuman materi yang dijelaskan atau dengan pemberian tes, tugas maupun latihan.
Tahukah Anda bahwa cara yang digunakan untuk menentukan urutan kegiatan pembelajaran tersebut di atas terkait erat dengan strategi pembelajaran yang dipilih guru? Untuk dapat menjawab pertanyaan apa perbedaan atau pengertian strategi, pendekataan, metode, dan teknik pembelajaran, tentunya Anda perlu memahami arti strategi, pendekatan, model, metode, dan teknik pembelajaran tersebut.
Apakah Strategi, Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran itu?
Kemp (dalam Sanjaya, 2007: 126) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan Kemp, Suparman (1997: 157-159) menyimpulkan dari pendapat yang dikemukakan beberapa ahli, bahwa strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran dan siswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan perkataan lain, strategi pembelajaran adalah cara yang sistematik dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Ini berkenaan dengan bagaimana menyampaikan isi pelajaran. Lebih lanjut dikemukakan, strategi pembelajaran mengandung empat komponen utama, yaitu: urutan kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dalam bentuk bagan strategi pembelajaran tampak seperti berikut.
Urutan Kegiatan Intruksional

metode


Pendahuluan
Deskripsi singkat:




Relevansi:




Tujuan:



Penyajian
Uraian:




Contoh:




Latihan:



Penutup
Tes formatif:




Umpan balik:




Tindak lanjut:




Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara dalam menyajikan (menguraikan, memberi contoh dan memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu (Suparman, 1997:166). Guru harus memilih metode yang sesuai untuk setiap kompetensi yang ingin dicapai, karena tidak setiap metode pembelajaran sesuai untuk digunakan dalam mencapai setiap kompetensi atau tujuan pembelajaran tertentu. Lebih lanjut Suparman (1997: 167-176) menjelaskan, ada beberapa metode yang biasa digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran. Berikut ini hanya akan diambil beberapa metode yang dianggap cocok dalam pembelajaran matematika di SD. Namun demikian ada beberapa metode di bawah, seperti deduktif atau ekspositori, discovery, inkuiri, dan induktif yang Roy Killen seperti diuraikan sebelumnya merupakan strategi pembelajaran.


a) Metode Ceramah
Metode ini berbentuk penjelasan guru kepada siswa dan biasanya diikuti dengan tanya jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas. Metode ini mempunyai keterbatasan sebagai berikut: (1) partisipasi siswa rendah; (2) kemajuan siswa sulit dipantau, dan (3) perhatian dan minat siswa tidak dapat dipantau. Pada pelajaran matematika, metode ceramah ini dapat diterapkan pada waktu kegiatan pembelajaran baru dimulai atau pada saat guru menginformasikan materi pembelajaran yang tidak menuntut peran aktif siswa, misal: menginformasikan definisi, teorema, rumus atau prosedur.
b) Metode Demonstrasi
Metode ini mengambil bentuk sebagai contoh pelaksanaan suatu keterampilan atau proses kegiatan. Metode ini mempersyaratkan adanya suatu keahlian bagi guru untuk mendemonstrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan yang sesungguhnya. Setelah demonstrasi siswa diberi kesempatan melakukan ketrampilan atau proses yang sama di bawah supervisi guru. Pada pelajaran matematika, metode ini digunakan antara lain saat pembuktian teori atau penurunan rumus (misal: volume atau luas bangun ruang), penggunaan alat (misal: penggaris, bujur derajat, jangka, dan lain - lain) dalam menggambar atau melukis bangun, penggunaan alat peraga (misal: klinometer, kurvameter dan lain - lain).
c) Metode Penampilan
Metode ini berbentuk pelaksanaan praktik oleh siswa di bawah supervisi dari dekat oleh guru. Praktik tersebut dilaksanakan atas dasar penjelasan atau demontrasi yang telah diterima atau diamati siswa. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan pada saat siswa harus
menampilkan suatu ketrampilan atau proses yang sama yang telah dilakukan guru, misal: menggambar atau melukis dengan menggunakan alat.
d) Metode Diskusi
Metode ini merupakan interaksi antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, menggali atau memperdebatkan topik atau permasalahan tertentu. Metode ini dapat dilakukan dalam bentuk klasikal atau kelompok-kelompok kecil. Diskusi kelompok kecil dapat dibedakan menjadi: pasangan, kelompok 3 - 6 orang, kelompok dinamika yaitu mulai dari dua orang, kemudian bergabung menjadi empat orang, terus bergabung menjadi delapan orang dan seterusnya. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan antara lain pada kompetensi yang memerlukan penalaran atau analisis dan adanya lebih dari satu kemungkinan jawaban, misal pembuktian teorema atau rumus atau pemecahan masalah.
e) Metode Studi Mandiri
Metode ini berbentuk pelaksanaan tugas membaca atau penelitian oleh siswa tanpa bimbingan atau pengajaran khusus. Metode ini dilakukan dengan cara: (1) memberikan daftar bacaan kepada siswa yang sesuai dengan kebutuhannya; (2) menjelaskan hasil yang diharapkan dicapai oleh siswa pada akhir kegiatan studi mandiri; dan (3) mempersiapkan tes untuk menilai keberhasilan siswa. Metode ini hanya dapat digunakan bila siswa mampu menentukan sendiri tujuannya dan dapat memperoleh sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
Pada pembelajaran matematika SD, metode ini dapat dilaksanakan di kelas-kelas tinggi (kelas V atau kelas VI) yaitu pada tahap terakhir proses belajar, misal: setelah mempelajari topik tertentu guru memberikan tugas pada siswa untuk mempelajari kembali topik yang dibahas dengan latihan-latihannya yang ada pada beberapa buku yang ditentukan. Kemudian pada pertemuan berikutnya guru memberikan tes untuk melihat hasil yang dicapai siswa.
f) Metode Bermain Peran
Metode ini berbentuk interaksi antara dua atau lebih siswa tentang suatu topik atau situasi. Dalam interaksi itu setiap siswa melakukan peran terbuka. Metode ini sering digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan isi pelajaran yang baru saja dipelajarinya dalam rangka menemukan kemungkinan masalah yang akan dihadapi dalam pelaksanaan sesungguhnya. Pada pembelajaran metematika di SD, metode ini cocok diberikan pada pokok bahasan aritmatika sosial, seperti tukar menukar mata uang, jual beli dan lain-lain.

g) Metode Computer Assisted Learning (CAL)
Metode CAL berbentuk suatu seri kegiatan belajar yang sangat terstruktur dengan menggunakan komputer. Isi pelajaran dimunculkan oleh komputer dalam bentuk masalah. Siswa diminta memberikan jawaban atau pemecahan masalah melalui komputer dan seketika itu juga jawaban siswa diproses secara elektronik, berselang satu atau beberapa detik kemudian siswa mendapatkan umpan balik tentang jawabannya. Metode ini memberi kesempatan pada siswa untuk majumenurut kecepatan masing-masing. Kesulitan penggunaan metode ini adalah pengembangan program CAL membutuhkan biaya yang tinggi dan butuh waktu yang lama serta pengadaan dan pemeliharaan alat yang mahal. Pada pembelajaran matematika di SD, program-program CAL sudah tersedia, seperti operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan lain-lain. Namun demikian metode ini jarang ataupun tidak banyak digunakan di sekolah-sekolah dasar pada umumnya. Hal ini disebabkan karena tidak tersedianya fasilitas pendukung terlaksananya metode ini, seperti keterbatasan jumlah komputer dan program-programnya.
h) Metode Deduktif
Metode ini dimulai dengan pemberian penjelasan tentang prinsipprinsip isi pelajaran, kemudian disusul dengan penerapan atau contoh-contohnya pada situasi tertentu. Metode ini bergerak dari yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Metode ini tepat digunakan bila: (1) siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari; (2) isi pelajaran meliputi terminologi, teknis, dan bidang yang kurang membutuhkan proses berpikir teoritis; (3) pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicara yang baik; dan (4) waktu yang tersedia singkat. Dalam menggunakan metode ini tahap yang perlu dilakukan guru adalah mempersiapkan pembelajaran dengan baik kemudian guru
menjelaskan/menerapkan/menganalisis suatu konsep, prinsip atau prosedur kepada siswa, kemudian berbekal penjelasan guru, siswa menerapkan konsep, prinsip atau prosedur dalam menyelesaikan masalah. Pada pembelajaran matematika di SD, metode ini dapat digunakan misalnya pada saat guru menjelaskan tentang rumus-rumus dan penerapannya, seperti: rumus keliling, luas ataupun volum, atau pada saat guru menjelaskan prosedur penyelesaian suatu masalah, seperti menentukan sudut terkecil yang dibentuk oleh jarum jam yang menunjukkan waktu atau pukul tertentu.
i) Metode Induktif atau Discovery atau Socratic
Metode ini dimulai dengan pemberian berbagai kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesis, menemukan atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut. Metode ini tepat digunakan apabila: (1) siswa telah mengenal atau mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut; (2) yang dianjurkan berupa keterampilan komunikasi antar pribadi, sikap, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan; (3) guru mempunyai keterampilan mendengarkan yang baik, fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan, serta sabar; dan (4) waktu yang tersedia cukup panjang.
Pada metode ini tahap yang perlu dilaksanakan guru adalah mengajukan masalah dan membimbing siswa untuk menemukan pemecahannya. Sedangkan tahap yang perlu dilakukan siswa dalah memahami masalah, memproses data dan menganalisanya kemudian menggeneralisasikan ke dalam bentuk umum. Pada pembelajaran matematika, metode ini dapat digunakan misalnya dalam menemukan rumus luas atau keliling bangun datar, volum bangun ruang atau menemukan hubungan antara panjang, lebar, keliling, dan luas. Selain metode yang disebutkan di atas, ada beberapa metode lain yang sekiranya dapat digunakan dalam pembelajaran matematika di SD, seperti dikemukakan Wardani (2003), yaitu antara lain.
j) Metode Ekspositori
Metode ini merupakan cara pembelajaran dengan guru berbicara pada saat-saat tertentu saja. Sedangkan kegiatan siswa tidak hanya terfokus pada mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru dan membuat catatan tetapi juga mengerjakan soal-soal latihan dengan mandiri baik secara individual atau kelompok. Pada pembelajaran matematika di SD, guru berbicara misalnya pada saat pembelajaran, menjelaskan materi, memberikan contoh atau pada saat memberikan latihan pada siswa.
k) Metode Tanya Jawab
Metode ini merupakan interaksi antara siswa dan guru dalam bentuk murni tanya jawab dalam membahas topik atau permasalahan tertentu. Inisiatif dan arahan tanya jawab dikendalikan oleh guru. Pertanyaan guru harus dijawab siswa dan sebaliknya bisa terjadi siswa bertanya pada guru. Walaupun pembelajaran dilakukan dengan murni tanya jawab namun masih diperlukan cara informatif khususnya untuk pengarahan. Pada penggunaan metode tanya jawab harus dipikirkan: (1) tujuan mengajukan pertanyaan, antara lain dapat berupa: dorongan siswa berpikir, menyegarkan ingatan siswa (sebagai apersepsi), memotivasi siswa, mendorong terjadinya diskusi, mengarahkan perhatian siswa, menggalakkan penyelidikan, memeriksa tanggapan siswa, mengundang pertanyaan siswa dan lain-lain; (2) jenis pertanyaan dapat berupa pertanyaan terbuka atau tertutup; (3) tingkat pertanyaan dapat berupa pertanyaan tingkat rendah (mengukur ingatan saja, jawaban umumnya: ya, tidak, mungkin, benar, salah dan sejenisnya) dan tingkat tinggi (mengukur pemahaman yang lebih tinggi). Teknik pertanyaan yang baik antara lain: pertanyaan jelas ringkas sederhana-komunikatif, diucapkan dengan jelas dan intonasi baik, bervariasi dari yang rendah ke tinggi, tidak dijawab sendiri, sasaran merata, partanyaan ditujukan kepada semua siswa, siswa diberi kesempatan berpikir, diminta menunjukkan jari untuk menjawab atau dipilih salah satu siswa untuk menjawab, menghargai jawaban siswa apapun mutunya, menerima dan memeriksa jawaban siswa sebelum mengajukan pertanyaan lain, tidak memotong jawaban siswa, merangsang siswa untuk menjawab di depan kelas, bertindak seolah-olah belum tahu jawaban bila ada siswa bertanya agar merangsang siswa berpikir.
l) Metode Drill dan Latihan
Metode Drill berbentuk pertanyaan atau soal dari guru yang harus dijawab siswa dengan cepat, tepat dan benar. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan siswa dalam mengingat serta mengungkapkan kembali ingatannya (menyebutkan) tentang fakta-fakta dasar, seperti: penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian bilangan-bilangan dasar, sebagai contoh: siswa di kelas III SD harus memiliki kemampuan melakukan perkalian dua bilangan satu angka dengan satu angka yang hasilnya sampai dengan 81 dengan cepat, tepat dan benar. Metode latihan berbentuk masalah atau soal dari guru yang harus dijawab siswa dengan kecepatan dan kecermatan. Pada pembelajaran matematika digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa agar cepat dan cermat dalam menggunakan algoritma (langkah-langkah atau prosedur penyelesaian masalah) matematika.
m) Metode Pemberian Tugas
Metode ini berbentuk pemberian tugas oleh guru yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan pelaksanaannya oleh siswa kepada guru atau teman-teman sekelasnya. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan antara lain bertujuan agar siswa dapat: melatih keterampilannya dalam menyelesaikan soal, lebih memahami dan mendalami suatu kompetensi yang telah dipelajari di sekolah, menumbuhkan kebiasaan belajar secara mandiri dan sikap positif terhadap matematika serta melatih rasa tanggung jawab. Untuk itu tugas yang diberikan pada siswa dapat berupa: menyelesaikan soalsoal matematika, membaca bahan yang akan dipelajari, menerapkan kemampuan matematikanya, mencari contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari yang relevan dengan konsep atau algoritma matematika tertentu, dan lain-lain.
n) Metode Kegiatan Lapangan
Metode ini berbentuk pemberian tugas dari guru kepada siswa untuk menyelesaikan dengan melakukan kegiatan lapangan (di luar kelas) dan menggunakan instrumen tertentu. Pada pembelajaran metematika,metode ini dapat digunakan pada saat siswa belajar statistik (siswa mengumpulkan data statistik dari lapangan kemudian mengolah dan menyajikannya dalam suatu diagram atau grafik), pengukuran (pengukuran tinggi suatu obyek pohon atau gedung) tanpa harus melakukan pengukuran langsung (misal dengan klinometer), mengukur lebar sungai, dan lain-lain.
o) Metode Permainan
Metode ini berbentuk kegiatan pembelajaran yang didasarkan pada prinsip “belajar sambil bermain”. Pada pembelajaran matematika, permainan yang bernilai matematika dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam menguasai keterampilan tertentu, menemukan dan memecahkan masalah, serta memahami konsep tertentu, contoh: bermain bilangan pada bujur sangkar, segitiga dan segilima ajaib, bermain kartu dan lain-lain.
Di samping metode-metode yang telah disebutkan di atas, masih banyak metode lain yang dapat dipergunakan dalam pembelajaran matematika di SD. Ada banyak cara untuk belajar, sehingga dibutuhkan metode pembelajaran yang berbeda pula. Dengan banyak ragam metode pembelajaran yang ada, ternyata masing-masing metode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Oleh karena itu, ketepatan metode pembelajaran yang dipilih memainkan peranan utama dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Metode pembelajaran yang akan dipilih tentu harus disesuaikan dengan tujuan dan materi pelajaran yang akan diajarkan. Agar
guru dapat memanfaatkan kelebihan dan mengurangi kelemahan suatu metode, maka dapat dilakukan alternatif kombinasi metode, misal: metode ceramah dan diskusi. Keunggulan metode diskusi adalah memungkinkan adanya interaksi antara guru dengan siswa atau siswadengan siswa. Dengan metode ini guru dapat membaca pikiran siswa tentang konsep yang baru dipelajari, menilai pemahaman dan reaksi/emosi siswa terhadap konsep baru. Namun karena metode diskusi baru dapat berjalan dengan baik bila siswa telah memiliki pengalaman atau konsep dasar tentang masalah yang akan didiskusikan. Maka metode ceramah dapat dimanfaatkan untuk menerangkan teori/konsep sebelum diskusi dilaksanakan.
Sementara itu, Soedjadi menyebutkan strategi pembelajaran adalah suatu siasat untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah satu keadaan pembelajaran kini menjadi keadaan pembelajaran yang diharapkan (1999: 101). Untuk mengubah keadaan itu dapat ditempuh dengan berbagai pendekatan pembelajaran. Lebih lanjut Soedjadi menyebutkan bahwa dalam satu pendekatan dapat dilakukan lebih dari satu metode dan dalam satu metode dapat digunakan lebih dari satu teknik. Secara sederhana dapat dirunut sebagai rangkaian: teknik metode pendekatan strategi.
Berkaitan dengan pendekatan, Sanjaya mengartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu. Sebagai contoh, Roy Killen mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru dapat menurunkanstrategi pembelajaran langsung, deduktif atau ekspositori, sedangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa dapat menurunkan strategi pembelajaran discovery, inkuiri, dan induktif (2007: 127). Lebih lanjut dikemukakan Sanjaya berkaitan dengan istilah lain, yaitu teknik dan taktik mengajar. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode, sedangkan taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik. Sebagai contoh, Anda sebagai guru ingin menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi ajar. Agar metode yang lakukan efektif dan efisien, maka Anda perlu memperhatikan kondisi dan situasi. Ceramah yang dilakukan pada siang hari dengan siswa yang banyak, tentunya akan berbeda dengan dilakukan pada pagi hari dengan jumlah siswa yang terbatas. Demikian juga walaupun Anda sebagai guru sama-sama menggunakan metode ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama, hasilnya belum tentu sama karena dipengaruhi taktik, seperti penggunaan ilustrasi dan gaya bahasa yang digunakan masing-masing guru. Contoh yang lain adalah dalam metode tanya jawab, dapat digunakan teknik pertanyaan jelas-ringkas atau sederhana-komunikatif. Dari uraian di atas, tentunya diharapkan dapat memperjelas Anda berkaitan dengan istilah strategi, pendekatan, metode dan teknik pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang dipilih guru akan mempengaruhi strategi yang akan diterapkan oleh guru tersebut. Dalam merencanakan dan melaksanakan strategi dapat digunakan berbagai metode pembelajaran yang sesuai. Dalam menjalankan metode pembelajaran guru dapat menggunakan teknik yang relevan dengan metode, sedangkan dalam menggunakan teknik ada kemungkinan guru menggunakan taktik yang berbeda.
Bagaimana kaitannya dengan model pembelajaran? Istilah strategi pembelajaran yang digunakan oleh Joyce dan Weil (1980: 1) adalah modelmodel mengajar, yaitu suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, untuk mendesain materi pelajaran, dan untuk pedoman kegiatan belajar mengajar di dalam kelas maupun di tempat lain. Menurut Joyce dan Weil (1986:14-15) setiap model pembelajaran harus memiliki tiga unsur berikut.
(1) Sintak (syntax) yang merupakan fase-fase (phasing) dari model yang menjelaskan model tersebut dalam pelaksanaannya secara nyata. Contohnya, bagaimana kegiatan pendahuluan pada proses pembelajaran dilakukan? Apa yang terjadi berikutnya?
(2) Sistem sosial (the social system) yang menunjukkan peran dan hubungan guru dan siswa selama proses pembelajaran. Kepemimpinan guru sangatlah bervariasi pada satu model dengan model yang lainnya. Pada satu model, guru berperan sebagai fasilitator namun pada model yang lain guru berperan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
(3) Prinsip reaksi (principles of reaction) yang menunjukkan bagaimana guru memperlakukan siswa dan bagaimana pula ia merespon terhadap apa yang dilakukan siswanya. Pada suatu model, guru memberi ganjaran atas sesuatu yang sudah dilakukan siswa dengan baik, namun pada model yang lain guru bersikap tidak memberikan penilaian terhadap siswanya, terutama untuk hal-hal yang berkait dengan kreativitas.
Model pembelajaran didefinisikan oleh Soekamto dan Winaputra (1995: 78), sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Sementara itu, Ismail (2003) menyebutkan bahwa istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu sebagai berikut.
(1) Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya.
(2) Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
(3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut berhasil.
(4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model-model pembelajaran lebih merupakan kerangka konseptual, sedangkan strategi lebih menekankan pada penerapannya di kelas. Model-model pembelajaran dapat digunakan sebagai acuan pada kegiatan perancangan yang sistematik dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang juga dikenal sebagai strategi pembelajaran.
Namun demikian dari beberapa sumber yang Anda baca tentunya sangatlah beragam. Ada sumber yang menyebutkan suatu bentuk pembelajaran sebagai strategi pembelajaran, sedangkan sumber lain menyebutkan sebagai pendekatan, model, ataupun metode. Tentunya sumber-sumber tersebut memiliki alasan masing-masing. Sebagai contoh, pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) ada sumber yang menyebutkan sebagai strategi, tapi ada pula yang menyebutkan sebagai pendekatan. Demikian pula pembelajaran kooperatif ada yang menyebutkan sebagai strategi, ada pula yang menyebutkan sebagai model ataupun metode. Dalam hal ini yang lebih penting adalah bagaimana Anda sebagai guru SD dapat menyiapkan urutan kegiatan pembelajaran, metode, media dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa Anda, serta mengikuti aturan yang berlaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar